Launching IPB SDGs Network dan Seminar Ketahanan Pangan

Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan tanggungjawab berbagai stakeholder di Indonesia, termasuk juga perguruan tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menjalankan banyak program yang terkait dengan pencapaian target SDGs di Indonesia. Untuk mewujudkan SDGs yang menghasilkan dampak positif yang lebih luas, IPB membentuk SDGs Network untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar pihak di lingkungan IPB serta jejaring nasional dan internasional. Peresmian IPB SDGs Network diselenggarakan pada tanggal 24/01/2019 pukul 13.30 – 17.00 di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga dengan mengundang Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang PS. Brodjonegoro untuk menyampaikan keynote speech yang dirangkai dengan diskusi dengan tema Ketahanan Pangan dan SDGs yang merupakan kerjasama dengan Forum Rektor Indonesia. Diskusi ini menghadirkan 4 orang pembicara yaitu: Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S. (Rektor Universitas Sahid Jakarta), Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. (Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia), Dr. Jamhari, S.P., M.P. (Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada), Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Sc. (Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB) dengan moderator Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi.  

Launching IPB SDGs Network

Rektor IPB Dr. Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan bahwa IPB sebagai perguruan tinggi memiliki komitmen dalam pencapaian SGDs. Semua pusat studi dan fakultas yang ada di IPB memiliki mandat yang relevan dengan sebagian besar poin-poin SDGs. IPB memiliki visi untuk menjadi Techno-Socio-Enterpreneurial University pada tahun 2045. Upaya pencapaian target tersebut sudah mulai dirintis melalui berbagai inisiatif strategis dengan berbasis pendekatan IPB 4.0, diantaranya melalui IPB Edu, IPB, Excel, IPB Share, IPB Lead, IPB Net, IPB Biz, dan IPB Green. Dalam perspektif lebih luas, IPB juga telah memperkenalkan konsep Agro-Maritim 4.0 yang ditujukan untuk mendukung pembangunan nasional di Indonesia untuk mencapai keberlanjutan, adil, makmur dan berdaulat. Berbagai hal tersebut sangat sejalan dengan upaya pencapaian target SDGs dan hingga saat ini telah banyak aktivitas baik riset, pengabian masyarakat dan inovasi yang beririsan langsung dengan berbagai poin yang terdapat di SDGs. Oleh karena itu Rektor IPB menekankan pentingnya IPB SDGs Network. IPB SDGs Network sebagai platform koordinasi berbagai lembaga baik internal IPB maupun lembaga di luar IPB yang concern dengan kegiatan-kegiatan atau program yang terkait dengan pencapaian SDGs. Dengan adanya IPB SDGs Network diharapkan mempermudah aliran informasi mengenai pencapaian target SDGs di IPB secara khusus dan di Indonesia secara umum. Selain karena misi untuk koordinasi internal, terdapat juga misi eksternal yang ditujukan untuk menggalang kolaborasi dengan berbagai pihak. Saat ini adalah era bersanding bukan bersaing, ungkap Dr. Arif Satria. Dalam sambutannya Arif Satria mengumumkan bahwa IPB mengangkat Dr. Bayu Krisnamurti, mantan Wakil Menteri Pertanian, sebagai koordinator SDGs network di IPB. 

Pada kesempatan tersebut Ketua Forum Rektor Indonesia Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu juga menyampaikan sambutannya tentang pentingnya Indonesia mewujudkan ketahanan pangan. Setelah pemberian sambutan, dilakukan pemutaran video tentang IPB SDGs Network serta memperkenalkan portal sustainability (www.sustainability.ipb.ac.id) sebagai media untuk menginformasikan program-program, kebijakan serta capaian-capaian IPB dalam mendukung terwujudnya SDGs yang dilanjutkan dengan peresmian oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas.  

Kuliah Umum Kepala Bappenas

Dalam pidato kunci, Prof. Dr. Bambang PS. Brodjonegoro, menyampaikan apresiasi kepada IPB yang telah melaunching IPB SDGs Network. Pilihan “Network” menjadi tepat karena IPB telah memiliki beragam Pusat Penelitian dan Fakultas dari beragam disiplin ilmu. Bambang menggarisbawahi bahwa ketujuhbelas tujuan dalam SDGs setidaknya dapat digolongkan dalam tema-tema besar yaitu: People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership. Setidaknya terdapat 3 pilar penting dalam pembangunan pertanian yaitu product, people, dan environment. Pertama, perhatian pada produk dimana dari sisi SDGs ini terkait ekonomi. Hal kedua yaitu terkait sumberdayanya, yaitu bagaimana kesejahteraan petani dan nelayan, dimana focus pada ‘orang’nya ini kalua dalam kerangka SDGs berarti menyangkut masalah sosial. Selanjutnya ialah lingkungannya yang harus diperhatikan agar selaras dengan aspek lingkungan hidup dalam SDGs. Perhatian terhadap ketiga aspek ini merupakan hal yang sangat penting yang harus diangkat oleh IPB. Pak Menteri menyampaikan bahwa Spirit Agro-Maritim 4.0 yang dibangun IPB harus diadopsi dalam mensukseskan SDGs.

Seminar Ketahanan Pangan

Di dalam Diskusi Forum Rektor Indonesia (FRI) tentang ketahanan pangan disampaikan berbagai pemikiran dari berbagai perspektif. Prof. Hardiansyah menyampaikan presentasi mengenai gizi dan kualitas pangan untuk pembangunan SDM. Rektor Universitas Sahid tersebut menjelaskan bahwa perbaikan kesehatan (death rate) di dunia ini selama 2 abad terakhir karena perbaikan gizi, sanitasi, imunisasi, ekonomi dan teknologi. Permasalahan gizi di dunia mengalami penurunan, termasuk juga di Indonesia, dimana dalam 5 tahun terakhir, meskipun demikian upaya peningkatan gizi masih perlu terus dilakukan terutama untuk mengatasi persoalan stunting. Rektor yang juga Guru Besar FEMA IPB ini memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Skor Kecerdasan (Raven’s scores) anak SD lebih baik pada anak yang diberi makan daging, dan akan semakin baik lagi untuk kelompok anak yang diberi daging dan susu dibanding yang tidak diberi. Peran ikan juga sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan peningkatan kecerdasan, disamping juga dapat berkontribusi dalam peningkatan kesehatan. Beberapa saran disampaikan oleh Hardiansyah dalam menangani permasalahan pangan, khususnya berkaitan dengan perbaikan gizi dan kualitas pangan, diperlukan pendekatan regulasi, pemberdayaan, teknologi dan akses. Selain itu perlu menetapkan tingkat kekurangan gizi dan jumlah anak stunting sebagai indikator mengukur kemiskinan non-income.

Perpektif lainnya dalam upaya penanganan masalah pangan disampaikan oleh Drajat Martianto. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB ini menjelaskan tentang pentingnya pencapaian tujuan SDGs, khususnya terkait Tujuan 2, yaitu menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Saat ini Indonesia masih menghadapi beberapa problem dalam ketahanan pangan dan gizi, diantaranya yaitu problem potensi SDA daan kerentanan, problem kualitas dan keamanan pangan, problem daya beli atau akses ekonomi, dan problem ketersediaan pangan secara makro. Segala problem tersebut harus segera diatasi guna menuntaskan tujuan SDGs pada tahun 2030. Drajat menginfokan bahwa arah kebijakan pemerintah 5 tahun kedepan yang berkaitan dengan RPJMN 2020-2024 telah memasukkan berbagai strategi dan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi yang cukup, terjangkau, sehat, bergizi, aman dan beragam; menjaga keberlanjutan daya dukung dan daya tampung sumberdaya pertanian; meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas SDM pertanian; dan menyediakan bahan pangan terutama dari produksi dalam negeri.

Sementara itu, Rektor Universitas Al-Azhar, Asep Saefuddin, menjelaskan solusi perbaikan pangan dari perspektif perlunya locality inovation untuk kemandirian pangan. Guru Besar FMIPA IPB ini menyimpulkan beberapa poin penting diantaranya yaitu perlunya memperkuat universitas berbasis pertanian di daerah-daerah dengan keunggulan lokal (sawit, karet, coklat, illan, ternak, dll), pentingnya R&D berbasis lokalitas, dibutuhkannya Pusat Pelatihan Pemuda/Millenial dalam membangun pertanian dengan kekuatan teknologi disrupsi (Blockchain, dll). Hal lainnya yang disampaikan yaitu bahwa universitas harus diperbolehkan membentuk entitas bisnis berbasis kekuatan SDA local, di samping juga perlunya untuk mengaitkan universitas dengan sentra produksi dan pasar melalui infrastruktur. Disisi lain, diperlukan peran pemerintah pusat untuk memberikan mandat ke beberapa universitas untuk fokus riset bidang-bidang tertentu dalam rangka menjawab kebutuhan ekspor, pangan nasional, dan daerah disesuaikan dengan kekuatan SDA daerah tersebut.

Permasalahan akses dan suplai pangan merupakan salah satu bagian penting dalam ketahanan pangan. Dalam hal ini, kegiatan perdagangan memiliki peran penting dalam pemenuhan ketahanan pangan. Perspektif ketahanan pangan dari sisi perdagangan menjadi topik yang ditekankan oleh Dr. Jamhari. Dekan Fakultas Pertanian UGM ini menjelaskan bahwa saat ini masih terjadi divergensi antara supply dan demand. Produksi pertanian mendapat tantangan serius dengan adanya konversi lahan, perubahan iklim, dan lain sebagainya, namun permintaan produk pertanian semakin tinggi. Fakta tentang perdagangan pangan menunjukkan persentase petani subsisten sebesar 31%, semi komersial 41%, dan sisanya komersial. Sementara itu dari sisi distribusi, produk pertanian masih tidak efisien, berbeda dengan produk non pertanian.

Jamhari menyarankan bahwa konsumsi kita harus realistik supaya melihat ke depan (futuristic), karena 2/3 negara kita laut maka perlu mendorong konsumsi pangan hasil laut. Selain itu, vertical farming harus digunakan optimal dan rasionalisasi kepemilikan lahan, disamping perlunya pemberian insentif terhadap pertanian. Kemudian terkait aspek distribusi, dimana masih terdapat 57% yang mengalami kesulitan akses pangan, maka solusinya perlu ciptaan lapangan kerja baru.

Leave a Reply

Close Menu