IPB Paparkan 26 Inovasi terkait COVID-19 untuk Daya Tahan Tubuh

Prof Erika B Laconi, selaku wakil rektor IPB Bidang Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan menyampaikan setidaknya ada 26 inovasi IPB terkait COVID-19 yang saat ini sedang digalakkan, dan juga diurus surat ijin edarnya. Beberapa inovasi tersebut antara lain: yoghurt probiotik yang diekstraksi dengan ekstrak buah merah untuk terapi terhadap COVID-19, kemudian Cajuput candy untuk melawan virus COVID-19, minuman Jeruk Pamelo untuk daya tahan tubuh COVID-19, kemudian ada saripati ayam jahe, dst. Paparan itu disampaikan dalam webinar pada Senin 22 Juni 2020 tentang “Peluang Bisnis Inovasi Pangan di Indonesia” yang terselenggara atas kerjasama IPB University dalam hal ini Direktorat Kerjasama dan Hubungan Alumni (DKHA), Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS), serta Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual (DIK) dengan GAPMMI dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Republik Indonesia.

Prof Erika B Laconi menegaskan “IPB tidak hanya menjadi kampus yang paling inovatif, tapi juga mengaktualisasikan inovasi-inovasinya”.  

Sementara itu, saudara Achmad Adhitya, PhD selaku Koordinator Tim Akselerasi Inovasi Kemendikbud, RI yang juga menjadi narasumber dalam webinar tersebut menyampaikan, ada kebutuhan industri untuk melakukan efisiensi dan produktifitas produksi, namun mereka terhalangi oleh komunikasi dengan pihak penyedia teknologi yang dibutuhkan, tegasnya. Masalah ini ternyata juga dialami oleh para inovator dimana mereka belum menemukan market yang tepat untuk aktualisasi teknologi yang mereka ciptakan. Jadi ibarat dua orang yang saling mencari namun belum saling menemukan. IPB mengambil peran strategis dan tepat dalam hal ini, tambah Achmad Adhitya, PhD.

Perlu adanya medium, atau plaform atau teknologi untuk mempertemukan dua pihak ini. IPB dapat mengambil peran untuk leading inovasi, dan menjadi think tank dari GAPPMI. Senada dengan hal itu, Prof Arif Satria Rektor IPB juga menyampaikan bahwa IPB siap menjadi RnD nya untuk GAPMMI untuk kemajuan bangsa.

Selain itu, Achmad Adhitya, PhD menambahkan bahwa setidaknya ada dua keuntungan yang didapat jika platform ini berhasil dijalankan, yaitu, pertama membuka akses bagi para inovator untuk menemukan kebutuhan pasar yang tepat, sehingga perlu juga shifting orientasi riset agar tidak hanya pada apa yag diinginkan peneliti. Mindset yang dibangun adalah apa yag dibutuhkan market dan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga proses scale up-nya bisa berlangsung dengan cepat. Kemudian, manfaat yang kedua adalah akselerasi inovasi dan teknologi, dan perguruan tinggi punya peranan memperkuat iklim ini agar tercipta ekosistem inovasi yang sehat.

Leave a Reply

Close Menu