IPB Gelar Seminar Nasional Ketahanan Pangan dan SDGs

Forum Rektor Indonesia di IPB

Persoalan pangan merupakan salah satu isu vital untuk dibahas dan dicari solusinya, termasuk oleh perguruan tinggi. Kontribusi perguruan tinggi sangat strategis dalam memberikan berbagai input baik berupa masukan hasil pemikiran, riset maupun inovasi untuk memecahkan berbagai persoalan pangan nasional. Sebagai salah satu langkah untuk memberikan kontribusi nyata terhadap hal ini, Forum Rektor Indonesia (FRI) menyelenggarakan Seminar Nasional Ketahanan Pangan yang diselenggarakan pada Hari Kamis (24/01/2019) bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN), Kampus IPB Dramaga, Bogor. Seminar yang ditujukan untuk membahas konsep ketahanan pangan dalam kerangka SDGs untuk memberi solusi jawaban atas berbagai tantangan dan isu strategis pangan sekarang dan ke depan tersebut menghadirkan beberapa narasumber. Seminar dibuka oleh Rektor IPB, Dr. Arif Satria dan dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pertanian RI, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. yang menyampaikan tentang “Kebijakan Pangan Indonesia”.

Peningkatan jumlah populasi dunia diikuti oleh tantangan bagaimana menyediakan pangan bagi penduduk dunia. Penduduk dunia diperkirakan akan mencapai angka 9 milyar jiwa di tahun 2050, jumlah yang pasti akan membutuhkan pangan dalam jumlah yang cukup. Jika dengan pola penyediaan pangan saat ini, dengan berbagai tantangan pada perubahan iklim dan perubahan lahan, maka penyediaan pangan menjadi tantangan yang cukup berat. Pun di Indonesia, peningkatan jumlah penduduk juga terjadi akan tetapi belum diikuti dengan perbaikan sistem pertanian, terutama kebijakan pertanian secara nasional.

Dalam sambutannya, Rektor IPB menyampaikan bahwa saat ini IPB telah meluncurkan konsep Agro-Maritim 4.0. Ke depannya bidang pertanian sudah mulai mengarah ke teknologi 4.0. Di hulu sudah mengarah ke precision farming, best management, untuk appropriate fertilizer, bibit unggul dan sampai dengan digital logistic. Teknologi blockchain juga sudah mulai digunakan. Dengan teknologi ini semua bisa saling mengontrol informasi dengan adanya perkembangan teknologi. Saat ini IPB juga sedang bekerjasama dengan Wageningen University & Research utk mengembangkan smart precision farming. Dalam menghadapi tantangan pertanian 4.0, pertanyaannya ialah, apakah petani Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi. Sementara berdasarkan kondisi saat ini, diperkirakan jumlah buruh tani akan menurun karena berkurangnya minat dari anak-anak petani untuk ikut terjun menjadi petani. Tantangan ke depan ialah banyaknya orang terdidik yg akan turun menjadi petani dan hal ini harus didukung oleh teknologinya. Hal ini penting karena akan menghadapi ancaman berkurangnya buruh tani di masa depan. Rektor menegaskan bahwa IPB dengan konsep Agro-Maritim 4.0 berkomitmen untuk mengantarkan pemanfaatan teknologi khususnya di sektor pertanian. Saat ini merupakan era kolaborasi bukan kompetisi, sehingga kerjasama antar universitas dan antar Lembaga sangat diperlukan.

Keynote Speech Menteri Pertanian RI

Sementara itu, dalam keynote speech-nya Menteri Pertanian, Amran, menyampaikan berbagai capaian kementerian pertanian selama lebih dari 4 tahun bekerja menjalankan amanah. Beliau sekaligus mengklarifikasi berbagai isu miring yang sering menyerang Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian menyampaikan bahwa inflasi pangan mengalami penurunan mulai dari 10,57% pada saat baru dilantik menjadi 2,6%, dan pada tahun 2018 menjadi 1,4%. Informasi ini sudah diklarifikasi langsung ke BPS. Capaian lainnya yaitu, investasi pertanian mengalami peningkatan sejak diberlakukannya Single System Online.

Pertanian masih dipersepsikan hanya beras, padahal ada banyak sekali komoditas pertanian (460 komoditas) selain beras. Sustainable agriculture Indonesia ada di atas Amerika, salah satu yang berkontribusi dalam capaian ini ialah berkat adanya hasil pengembangan dan pemanfaatan teknologi di bidang pertanian. Salah satunya, kerjasama Kementerian Pertanian dengan IPB,  Universitas Hasanuddin dan Universitas Haluoleo telah berhasil menanam tebu dengan Produksi 140 ton/ha. Sedangkan produksi padi IPB3S yang ditanam pada lahan seluas menanam 500 Ha di Karawang telah berhasil dengan produktivis 13.4 Ton/Ha. Menteri Amran menegaskan bahwa tidak akan berubah pertanian tanpa teknologi dan tempat pengembangan keilmuan dan teknologi ada di kampus. Disamping itu, kemampuan petani Indonesia tidak kalah dengan petani di Jerman, Taiwan dan Jepang. Kita hanya kalah di passion dan semangatnya.

Capaian lainnya yang disampaikan yaitu lahan rawa di Indonesia ada 10 juta ha, sebagian besar lahan tidur. Kementerian pertanian telah meningkatkan produktivitas dari lahan rawa yang tidur tersebut, dan hasil kerja dengan bibit unggul Inpara pada lahan rawa telah sukses menghasilkan produktivitas 6 ton/ha. Artinya tiga kali lipat dari pola sebelumnya yg dilakukan petani yang hanya 2 ton perhektar. Selain itu, planting indeksnya juga meningkat menjadi lebih dari 1 kali pertahun. Hal lainnya yang disampaikan ialah PDB pertanian pada tahun 2014  hanya sebesar 994 triliun dan saat ini mengalami peningkatan menjadi 1400 triliun. Kesejahteraan petani juga meningkat. Caranya ialah dengan menekan disparitas dan juga mengurangi middlemen. Termasuk dalam upaya ini yaitu dengan melakukan kerjasama dengan Lembaga penegak hukum dan instansi terkait untuk mengurangi praktik-praktik korupsi yang ada di Kementerian Pertanian.

Talk Show tentang SDGs

Pada kesempatan yang sama, setelah keynote speech Menteri Pertanian, acara dilanjutkan dengan Talk Show tentang SDGs dengan menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya: Dr. Ir. Subandi, MSc. (Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas), Dr.Ir. Aji Hermawan, M.M. (Kepala LPPM IPB), Prof. Dr. med. dr. Tri Hanggono Achmad (Rektor Universitas Padjajaran), Dr. Ridwan Nurazi, S.E, M.Sc. (Rektor Universitas Bengkulu), dan Ir. Fathan Kamil (Ketua Himpunan Alumni IPB). Pada sesi panel yang dimoderatori oleh Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, MS (Koordinator IPB SDGs Network) tersebut, berbagai hal disampaikan disampaikan oleh para narasumber.

Pak Subandi dari Bappenas menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pelaksanaan SDGs. Indonesia memiliki Rencana Aksi Nasional tentang SDGs dan ke depannya perlu juga Rencana Aksi Daerah tentang SDGs. Peran perguruan tinggi sangat penting dalam mendampingi dan mengawal pelaksanaan SDGs di daerah. Salah satu Deputi di Bappenas ini menyampaikan bahwa bisnis filantropi juga perlu dilibatkan dalam pencapaian target SDGs. SDGs juga dapat meningkatkan demand universitas, terutama bagaimana prodi-prodi yang ada memiliki kesesuaian dengan target SDGs dan apakah prodi-prodi tersebut dapat menjawab peran dari perguruan tinggi untuk mencapai tujuan dari SDGs. Beliau juga menambahkan bahwa pendanaan saat ini cukup banyak dan dapat diperoleh dengan lebih mudah jika perguruan tinggi mengajukannya dalam hal yang berkaitan dengan SDGs.

Dari perspektif lain, Fatan Kamil, Ketua Himpunan Alumni IPB menjelaskan bahwa ada satu hal yg penting yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana menerjemahkan SDGs ini pada semua level komponen bangsa. Pemahaman juga harus dimiliki hingga pada level petani. Hal yang menarik buat SDGs yaitu HA berusaha mengarahkan arah pengembangannya yang bisa sejalan dengan arah implementasi SDGs di IPB. Kelembagaan alumni memiliki makna yang lebih strategis karena alumni IPB bisa hadir dalam hal yang lebih fleksibel dimana IPB tidak bisa atau terbatasi dalam hal tersebut, disamping juga dari sisi networking juga sangat mendukung. Himpunan Alumni IPB menekankan bahwa basis kepemimpinan harus bisa mengkonsolidasi berbagai kekuatan yang ada, sehingga target-target capaian SDGs dapat segera tercapai dalam beberapa tahun ke depan. IPB juga harus bisa selangkah lebih maju dalam upaya ini melalui dukungan dari alumni. Fatan menginfokan bahwa saat ini alumni telah membuat tujuh klaster di Indonesia bekerjasama dengan BEM untuk secara sistematis menanamkan kepada calon-calon pemimpin tentang pentingnya pemahaman terhadap SDGs. Seluruh komponen bangsa harus dilibatkan dan dapat digerakkan secara masif untuk mencapai hasil yang maksimal. Dukungan dan kerjasama antar elemen harus komprehensif di semua tingkatan.

Prof. Tri Hanggono Achmad, Rektor Unpad memaparkan bahwa komunitas akademik memiliki peran penting dalam SDGs, yaitu melalui pendidikan, menyediakan pengetahuan tentang hasil riset dan inovasi berkaitan dengan implementasi SDGs, memfasilitasi dialog dengan stakeholders dan memfasilitasi penyampaian informasi utk mendukung implementasi SDGs. Pencapaian target SDGs merupakan hal yang komplek, ada dependency antar elemen di universitas, sehingga perlu kelembagaan. Hal yang kompleks tersebut juga perlu didukung oleh leadership yang kuat dan mampu menjaga komitmen. Selain itu perlu juga proteksi dan komitmen pimpinan utk terus mengawal program SDGs.

Senada dengan narasumber lainnya, Dr. Ridwan Nurazi menegaskan kembali bahwa SDGs merupakan komitmen semua pihak. Implementasi SDGs perlu didukung oleh adanya pemetaan terkait berbagai aspek SDGs, sehingga implementasinya dapat tepat sasaran. Universitas Bengkulu telah memiliki SDGs centre yang harapannya dapat menjadi movement yang diikuti oleh yang lainnya.

Dr. Aji Hermawan sebagai narasumber yang mewakili IPB mengatakan bahwa SDGs sangat relevan dengan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. IPB membagi implementasi SDGs menjadi dua hal, yaitu Goals Spectrum dan Impact Spectrum. Goals Spectrum terdiri dari aspek Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. IPB telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian target SDGs, dan LPPM IPB telah melakukan pemetaan terhadap berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta kelembagaan yang telah ada dan berkaitan dengan target-target SDGs. Di IPB saat ini telah terdata sekitar 1200 kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan semuanya telah diidentifikas dalam kaitan kontribusi ke setiap target SDGs. Kepala LPPM IPB ini melanjutkan penjelasan selanjutnya mengenai Impact Spectrum, yang terbagi menjadi beberapa aspek, yaitu berkaitan dengan Direct service, Scaled direct service, System change dan Framework change.

Leave a Reply

Close Menu